AniEvo ID – Komentar jahat di internet sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat serius. Kali ini gue mau bahas cyberbullying Jepang, khususnya kasus yang mengubah cara negara itu menangani penghinaan online, yaitu kasus pegulat profesional Hana Kimura.

Peringatan: artikel ini membahas topik bunuh diri. Kalau lo sedang merasa berat, informasi layanan bantuan ada di bagian akhir artikel.

Siapa Hana Kimura?

Gedung Kementerian Kehakiman Jepang di Kasumigaseki - Foto: Kakidai via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Hana Kimura adalah pegulat profesional dari promosi Stardom sekaligus anggota pemeran reality show Terrace House. Ibunya, Kyoko Kimura, juga seorang pegulat profesional.

Menurut BBC, Hana Kimura meninggal dunia pada Mei 2020 di usia 22 tahun. Sebelumnya, ia sempat mengunggah pesan yang mengisyaratkan bahwa dirinya menjadi korban perundungan di media sosial. Kepergiannya mengejutkan banyak orang, baik di Jepang maupun di luar negeri.

Dampak ke Terrace House dan Fuji TV

Setelah kejadian itu, Fuji TV dan Netflix menghentikan produksi Terrace House Tokyo 2019-2020. Pada Maret 2021, lembaga etika penyiaran Jepang (BPO) dilaporkan menilai Fuji TV kurang mempertimbangkan kesehatan mental Hana Kimura, yang dianggap sebagai masalah etika, meski tidak menyimpulkan adanya pelanggaran hak asasi.

Kyoko Kimura juga menggugat Fuji TV dan rumah produksinya dengan alasan lalai menjalankan kewajiban menjaga keselamatan. Sidang pertamanya digelar di Pengadilan Distrik Tokyo pada Juli 2023, dan sampai saat artikel ini ditulis, gue belum menemukan putusan akhir dari kasus tersebut.

Pelaku Komentar Jahat Dihukum

Beberapa pelaku komentar jahat akhirnya diproses hukum. Pada Maret 2021, seorang pria di Osaka dilaporkan didenda ¥9.000 atas dakwaan penghinaan berdasarkan aturan lama. Hukuman sekecil itu justru memicu kritik bahwa aturan yang ada terlalu ringan.

Lewat jalur perdata, pada Mei 2021 Pengadilan Distrik Tokyo memerintahkan seorang pria yang menulis komentar jahat setelah Hana meninggal untuk membayar sekitar ¥1,29 juta kepada Kyoko Kimura. Namun menurut Bunshun, lebih dari setahun kemudian pengacara Kyoko menyebut uang itu belum juga dibayar.

Lahirnya Aturan Penghinaan Online 2022

Kasus ini mendorong Jepang merevisi aturan pidana soal penghinaan. Parlemen mengesahkan revisi pada Juni 2022, dan menurut situs resmi pemerintah Jepang, aturan baru mulai berlaku pada 7 Juli 2022. Hukuman untuk penghinaan naik menjadi maksimal 1 tahun penjara atau denda hingga ¥300.000. Sebelumnya, hukumannya hanya kurungan kurang dari 30 hari atau denda kurang dari ¥10.000.

Masa kedaluwarsa kasusnya juga dilaporkan diperpanjang dari 1 tahun menjadi 3 tahun. Revisi ini juga dilengkapi klausul peninjauan setelah tiga tahun, dan pada Januari 2026 draf laporan panel ahli Kementerian Kehakiman dilaporkan menyebut penyalahgunaan online masih serius, meski hukuman yang lebih berat dinilai belum mendesak.

Kisah ini jadi pengingat buat kita semua bahwa di balik setiap akun ada manusia sungguhan. Laporan BBC soal dampak kasus ini ke Terrace House bisa lo baca di situs BBC.

Gugatan Kyoko Kimura terhadap Fuji TV dan rumah produksinya bernilai sekitar ¥139 juta, dan dilaporkan masih berjalan setidaknya hingga Mei 2025. Selain itu, ada gugatan perdata lain senilai sekitar ¥2,94 juta terhadap penulis komentar jahat lainnya, yang sidang pertamanya digelar Maret 2021.

Butuh Teman Bicara?

Kalau lo atau orang terdekat lo sedang mengalami masa sulit atau punya pikiran untuk menyakiti diri sendiri, jangan dipendam sendirian. Di Indonesia, lo bisa menghubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan lewat telepon 119 ekstensi 8 atau situs healing119.id. Buat yang tinggal di Jepang, ada Yorisoi Hotline di 0120-279-338 yang buka 24 jam, serta TELL Lifeline berbahasa Inggris di 03-5774-0992.

Jadi, yuk mulai dari diri sendiri: pikir dua kali sebelum ngetik komentar. Tulis pendapat lo dengan sopan di kolom komentar, dan pantengin terus AniEvo ID!