AniEvo ID – Selama puluhan tahun, Johnny & Associates dikenal sebagai agensi idol pria paling berpengaruh di Jepang. Tapi di balik kesuksesan itu tersimpan rahasia kelam yang akhirnya terbongkar pada 2023. Kali ini gue mau bahas Skandal Johnny's, kasus pelecehan seksual oleh pendirinya, Johnny Kitagawa, yang mengguncang industri hiburan Jepang.

Catatan: artikel ini membahas kasus pelecehan seksual terhadap anak dan remaja. Semua informasi di sini berasal dari laporan media kredibel, dokumen PBB, dan pernyataan resmi perusahaan.

Dokumenter BBC yang Membuka Segalanya

Kantor pusat Johnny & Associates di Akasaka, Tokyo, Agustus 2023 - Foto: Lombroso via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Pada 7 Maret 2023, BBC Two menayangkan dokumenter Predator: The Secret Scandal of J-Pop yang dipandu jurnalis Mobeen Azhar. Dalam dokumenter itu, para korban mengaku takut karier mereka hancur jika menolak Kitagawa.

Johnny Kitagawa meninggal dunia pada 2019 di usia 87 tahun. Selama hidupnya, ia membantah semua tuduhan dan tidak pernah didakwa. Namun menurut BBC, gugatan pencemaran nama baik terkait artikel majalah Shukan Bunshun tahun 1999 sebelumnya sudah menyimpulkan bahwa tuduhan pelecehan itu benar.

Kesaksian Kauan Okamoto

Pada 12 April 2023, mantan trainee Kauan Okamoto menggelar konferensi pers di Foreign Correspondents' Club of Japan. Menurut BBC, ia mengaku dilecehkan hingga 20 kali antara 2012 dan 2016, mulai saat ia berusia 15 tahun, dan meyakini ada sekitar 100 anak laki-laki yang menjadi korban.

Pada Mei 2023, CEO Julie Fujishima menyampaikan permintaan maaf lewat video. Lalu pada akhir Agustus 2023, panel independen meminta Fujishima mundur dan menyatakan bahwa bisnis yang dijalankan secara kekeluargaan telah membuka jalan bagi pelecehan tersebut.

Pengakuan Resmi dan Mundurnya Pimpinan

Pada 7 September 2023, Julie Fujishima resmi mundur dan untuk pertama kalinya mengakui pelecehan itu. Ia menyatakan bahwa baik agensi maupun dirinya secara pribadi mengakui pelecehan seksual oleh Johnny Kitagawa memang terjadi. Menurut BBC, investigasi menemukan Kitagawa melecehkan ratusan anak laki-laki dan pemuda selama enam dekade.

Dampaknya langsung terasa. Perusahaan besar seperti Nissan, Asahi, dan Suntory menyatakan tidak akan memperpanjang kontrak, dan Kementerian Pertanian Jepang berhenti memakai talenta agensi tersebut.

Ganti Nama dan Kompensasi Korban

Pada 2 Oktober 2023, perusahaan mengganti namanya menjadi SMILE-UP. yang khusus menangani kompensasi korban, sementara manajemen talenta dipindahkan ke perusahaan baru, STARTO ENTERTAINMENT.

Kelompok Kerja PBB untuk Bisnis dan Hak Asasi Manusia juga menyoroti kasus ini. Dalam laporan akhirnya, PBB menyatakan sangat prihatin atas dugaan eksploitasi seksual yang melibatkan ratusan talenta, dan menyebut perusahaan media ikut terlibat menutupi skandal semacam ini selama puluhan tahun.

Menurut data resmi SMILE-UP per 15 Oktober 2026, sebanyak 1.048 orang telah mengajukan klaim. Dari jumlah itu, 587 orang ditawari kompensasi dan 582 orang sudah menerima pembayaran, sementara 231 klaim ditolak karena keanggotaan maupun pelecehannya tidak bisa dikonfirmasi.

Laporan Kelompok Kerja PBB yang dirilis Mei 2024 juga mencatat bahwa saat itu SMILE-UP telah menawarkan kompensasi kepada 282 korban, dan sudah membayar 201 dari 206 orang yang menerima tawaran. Laporan yang sama juga mengkritik layanan dukungan kesehatan mental yang disediakan perusahaan.

Skandal ini jadi pengingat bahwa kekuasaan besar tanpa pengawasan bisa melindungi pelaku selama puluhan tahun. Laporan BBC tentang pengakuan resmi agensi bisa lo baca di situs BBC.

Jadi, menurut lo apa pelajaran terbesar dari skandal Johnny's buat industri hiburan, termasuk di Indonesia? Tulis pendapat lo di kolom komentar dengan bahasa yang sopan, dan pantengin terus AniEvo ID!