AniEvo ID – Pasar anime Jepang lagi pecah rekor, tapi kabar studio bangkrut dan gaji animator rendah masih terus muncul. Salah satu hal yang sering dibahas adalah Komite Produksi Anime atau seisaku iinkai (製作委員会).

Cara Kerja Komite Produksi

Studio Oizumi Toei Animation, gedung generasi pertama - Foto: 正和 via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Dalam sistem ini, beberapa perusahaan seperti penerbit, agensi iklan, label musik, dan platform streaming patungan dana, lalu memesan anime ke studio. Hak cipta biasanya dipegang bersama para investor. Sistem ini populer karena risiko anime gagal ditanggung bareng.

Masalahnya, studio yang cuma menerima pesanan nggak selalu ikut menikmati untung saat anime-nya sukses. Survei JFTC (komisi persaingan usaha Jepang) tahun 2009 mencatat 64,2% studio yang menerima pesanan ulang nggak pernah menegosiasikan pendapatan dari pemanfaatan lanjutan. Sebaliknya, 88,2% kontraktor utama mendapat bagi hasil, jadi tekanan terberat jatuh ke subkontraktor. Datanya memang sudah lama.

Pasar Rekor, Staf Masih Mengeluh

Menurut AJA, pasar anime 2025 mencapai rekor ¥4,449 triliun, sementara penjualan perusahaan produksi anime ¥505,5 miliar. Dua angka ini beda jenis, jadi bukan berarti studio cuma dapat 11% keuntungan. Tapi jaraknya tetap jadi bahan diskusi.

Laporan JFTC Desember 2025 juga menemukan 89,4% sutradara dan staf produksi serta 52,1% animator nggak puas dengan bayaran mereka. Keluhannya antara lain kontrak nggak jelas, bayaran telat, dan revisi tanpa upah. Teikoku Databank mencatat 8 perusahaan produksi anime berhenti beroperasi sepanjang Januari–September 2025. Pembahasan lengkapnya bisa lo baca di Nippon.com.

Jadi, menurut lo sistem komite produksi ini perlu diubah atau masih jadi cara terbaik bikin anime?

Foto utama: Ryo FUKAsawa (CC BY 2.0) via Wikimedia Commons.