AniEvo ID – Berita kali ini gue ambil dari pembahasan panas di Weibo, yang sering disebut Twitter-nya China. Ada satu postingan viral minggu ini yang ngomongin kalo Anime Jepang lagi nge-decadence alias turun kualitas. Postingan itu nunjukin portal berita China yang bilang meskipun Jepang punya sejarah panjang di industri Anime sama sutradara-sutradara legendaris, negara itu kayaknya gagal bikin karya besar belakangan ini.
Nah, kebetulan banget, kontroversi ini muncul barengan sama kesuksesan film animasi China kayak seri Nezha atau sering orang menyebut Anime China adalah Donghua. Film terbarunya bahkan udah nembus 1,72 miliar dolar AS, jadi film animasi paling laris di dunia! Ini bener-bener nunjukin kalo animasi China lagi naik daun banget secara global.
Ada beberapa orang yang setuju kalo anime Jepang emang lagi nge-drop kualitasnya. Mereka bilang akhir-akhir ini kebanyakan isekai doang (itu loh, cerita dunia paralel) sama adaptasi novel ringan murahan. Tapi ada juga yang ngebelain Jepang, bilang kalo mereka masih kuat banget dengan karya-karya kayak Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba. Film pertamanya aja sukses gila-gilaan di box office, jadi bukti kalo anime Jepang masih punya power.
Tapi ya, gak semua orang sepakat sih. Ada juga yang bilang meskipun anime Jepang gak segarang dulu, tetep aja dominan secara budaya. Mereka bilang membandingkan anime Jepang sama China tuh gak adil. Meskipun animasi China lagi naik daun, banyak yang ngekritik kalo kualitas animasinya masih gak stabil, apalagi di produksi skala besar.
Dari sisi artistik juga, animasi China masih kalah jauh dibanding karya sutradara legendaris kayak Hayao Miyazaki atau Katsuhiro Otomo. Karakter-karakter mereka tuh punya kedalaman yang susah banget ditiru. Nah, terus apa kata orang Jepang soal ini?
- “Anime Jepang tuh udah mati pas 2010-an.”
- “Setelah Madoka Magica , semua karya hits tuh cuma buat penonton cewek. Ceritanya dangkal, gak ada greget. Yang berkualitas kayak Bakemonogatari sama Madoka Magica udah jarang banget keluar.”
- “Gara-gara lo semua, sampe karya abal-abal aja diadaptasi jadi anime.”
- “Kalau gak suka, ya jangan nonton!”
- “Kok kayak orang Jepang pengen reset hidup gitu ya?”
- “Papa, tolong dong tingkatin kualitas cerita anime-anime lo.”
- “Gue tanya ke orang China, katanya di sekolah mereka dipaksa nonton animasi lokal. Jadi angka-angka itu agak maksa.”
- “Bener juga. Orang Jepang sendiri gak begitu nonton isekai. Itu kan buat pasar China, makanya diproduksi massal.”
- “Iya sih. Kayak filsuf Yunani yang berakhir sama Socrates, anime Jepang tuh berakhir sama Hayao Miyazaki. Kayaknya gak bakal ada yang bisa ngalahin dia.”
- “Kalau ada karya baru yang bisa ngalahin Narou, otomatis tren isekai bakal ilang sendiri. Bahkan pencipta Shousetsuka ni Narou pernah nyerah ngatur tren ini, tapi tetep aja booming. Gila!”
- “Anime tahun 80-an sama 90-an tuh jauh lebih keren. OVAnya waktu itu punya kualitas gila dan bikin excited. Budaya ini erat banget sama ekonomi, jadi wajar kalau zaman dulu ada banyak karya bagus karena industrinya lagi kuat. Sekarang mah cuma daur ulang ide lama tanpa arah.”
- “Dengan banyaknya karya yang mirip-mirip, ya pasti ketutupan lah. Tapi isekai tanpa cheat itu cuma sebagian kecil dari budaya Jepang.”
- “Inilah saatnya animasi China menguasai dunia.”
Gimana menurut lo? Apakah anime Jepang beneran lagi nge-decadence atau cuma masalah selera penonton aja? Atau jangan-jangan animasi China bakal jadi raja baru di dunia?
Copyright (C) 2005-2025 Record China. All Rights Reserved.