AniEvo ID – Berita kali ini gue ambil dari cerita pahit dari Izu Peninsula, Jepang. Hoang Quoc Anh, cowok Vietnam umur 31 tahun, buka restoran sushi kecil namanya Sakura Zushi. Tempatnya cuma 25 kursi, 4 menit jalan kaki dari stasiun Izu-Nagaoka. Setiap pagi dia sendiri yang masak nasi sama potong ikannya.
Dia udah belajar dari chef sushi Jepang, dan buka restoran sendiri emang jadi mimpinya. Tapi pas pintu baru aja dibuka, aturannya tiba-tiba berubah.
Dulu buat dapat business-manager visa, modal yang dibutuhkan cuma ¥5 juta (sekitar $33.000). Oktober tahun lalu pemerintah Jepang naikkin jadi ¥30 juta (sekitar $200.000). Naik 6 kali lipat dalam sekejap.

“Kalau gue tau sebelumnya, gue gak akan buka,” kata dia ke Shizuoka Shimbun. “Shock banget.”
Dia gak sendirian. Setelah aturan baru itu berlaku, jumlah aplikasi visa jenis ini anjlok 96%. Dari yang biasanya banyak, sekarang cuma sekitar 70 aplikasi per bulan di seluruh Jepang.
Belum selesai. Oktober nanti biaya visa juga naik tajam. Syarat penghasilan buat permanent residency juga bakal ditingkatin, plus biaya apply-nya naik 20 kali lipat.
Pemerintah Jepang bilang kebijakan ini buat “orderly coexistence” (hidup berdampingan yang tertib). Tapi buat chef yang sehari-hari masak sushi sekaligus pho di dapur yang sama, ini terasa kayak akhir dari sebuah mimpi.
Gimana menurut lo?












