AniEvo ID – Pertengahan November nanti, kuil-kuil di Jepang bakal ramai dengan anak-anak kecil berkimono yang lucu banget. Mereka lagi merayakan Shichi-Go-San (七五三), tradisi untuk anak-anak berumur tiga, lima, dan tujuh tahun. Kali ini gue mau bahas sejarah dan makna di balik tradisi menggemaskan ini!

Arti Nama Shichi-Go-San

Chitose-ame, permen panjang khas Shichi-Go-San yang dijual dalam kantong bergambar - Foto: Nesnad via Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Nama Shichi-Go-San secara harfiah berarti "tujuh-lima-tiga", sesuai usia anak yang merayakannya. Di hari ini, keluarga membawa anak-anak mereka ke kuil untuk mendoakan pertumbuhan dan kesehatan sang anak.

Tradisi ini dulunya punya makna yang dalam. Setiap usia dianggap sebagai tahap penting dalam tumbuh kembang anak yang patut disyukuri.

Kenapa Tanggal 15 November?

Tanggalnya mengikuti tradisi upacara pertumbuhan rambut yang digelar untuk Tokugawa Tokumatsu, putra sulung shogun Tokugawa Tsunayoshi, pada tanggal 15 bulan ke-11 kalender lunar tahun 1681. Perlu dicatat, ini masih berupa tradisi turun-temurun, bukan sejarah yang benar-benar pasti.

Ada alasan lain kenapa tanggal 15 dipilih. Dalam kalender lunar, hari itu dianggap sebagai hari yang sangat baik, di mana iblis dipercaya nggak berkeliaran. Bulan ke-11 juga merupakan bulan untuk berterima kasih kepada dewa atas hasil panen, jadi hari bulan purnama tanggal 15 dipilih untuk mendoakan anak-anak.

Setelah Jepang mengganti sistem kalendernya di zaman Meiji, perayaannya pindah ke tanggal 15 November dalam kalender modern. Sekarang, banyak keluarga memilih datang ke kuil di akhir pekan atau hari libur bulan November biar lebih fleksibel.

Makna di Setiap Usia

Setiap usia dalam Shichi-Go-San punya upacaranya sendiri. Usia dihitung dengan cara tradisional yang disebut kazoedoshi.

Di usia 3 tahun ada kamioki (髪置き), terutama untuk anak perempuan. Upacara ini menandai berakhirnya kebiasaan mencukur rambut anak, sehingga rambutnya mulai dibiarkan tumbuh.

Di usia 5 tahun ada hakamagi (袴着), saat anak laki-laki pertama kali memakai hakama, celana lebar tradisional Jepang.

Di usia 7 tahun ada obitoki (帯解き), saat anak perempuan beralih dari kimono bertali ikat sederhana ke kimono dengan obi lebar seperti orang dewasa.

Chitose-ame, Permen Panjang Umur

Ciri khas lain dari Shichi-Go-San adalah chitose-ame (千歳飴), permen panjang dan tipis berwarna merah putih. Nama chitose sendiri berarti "seribu tahun", melambangkan harapan agar anak berumur panjang. Permennya biasanya dijual dalam kantong yang penuh hiasan.

Asal-usulnya konon dari "permen seribu tahun" yang dijual seorang pedagang permen di Asakusa bernama Shichibei sekitar zaman Genroku-Hoei, kira-kira tahun 1688–1711. Tapi ada juga versi cerita lain yang mengaitkannya dengan Kuil Kanda, jadi asal-usul pastinya masih diperdebatkan.

Akar dari Tiga Upacara Kuno

Shichi-Go-San yang kita kenal sekarang sebenarnya berasal dari tiga upacara terpisah yang sudah ada sejak zaman Heian. Beberapa sumber menyebut upacara kamioki mulai menyebar ke rakyat biasa di zaman Muromachi, sementara upacara obitoki sudah ada sejak zaman Kamakura. Ketiganya kemudian disatukan jadi satu perayaan yang dikenal sekarang.

Soal cara menghitung usia, kazoedoshi adalah sistem tradisional Jepang di mana bayi dianggap berusia satu tahun saat lahir, lalu bertambah satu tahun setiap pergantian tahun baru. Karena itu, usia anak yang merayakan Shichi-Go-San secara tradisional bisa berbeda dari usia aslinya.

Selain permen, kuil juga sering memberikan omamori (jimat) dan papan doa ema untuk anak-anak yang merayakan. Penjelasan lengkap tentang tradisi ini bisa lo baca di halaman Shichi-Go-San.

Jadi, menurut lo tradisi Shichi-Go-San ini mirip nggak sama tradisi syukuran anak di Indonesia? Tulis pendapat lo di kolom komentar, dan pantengin terus AniEvo ID buat bahas budaya Jepang lainnya!